In The Name of Allah

Welcome - Sugeng Rawuh - Selamat Datang

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2009

SYAIR ARAB


Wadduu al ilmi haqqun khoolidun ba'da mautihi

Wa aushooluhu tahta atturoobi ramiimi...

Wadzuu al jahli mayyitun wa huwa maasyin 'alaa atstsuroo

Yadhunnu minal akhyaai wahuwa adiimu...

Orang yang berlimu itu hidup kekal selamanya sesudah ia meninggal, walaupun tulang belulangnya telah hancur luluh di bawah tanah...

Orang bodoh pada hakekatnya adalah mati walaupun ia berjalan. Ia menyangka bahwa ia hidup, padahal tidak ada gunanya sama sekali...

Nasehat dalam bait syair Arab di atas dengan tegas menyatakan bahwasanya setiap manusia yang hidup di dunia ini di wajibkan untuk menuntut ilmu. Baik ilmu dunia, yaitu segala ilmu yang harus di cari untuk mendapatkan kehidupan yang layak di dunia. Dan ilmu akhirat, yaitu ilmu/pemahaman tentang agama sebagai bekal kehidupan di akhirat yang kekal dan abadi. Jika kita hanya mencari ilmu dunia saja, tanpa di iringi dengan pencarian ilmu agama, maka kita tidak akan mendapatkan secuil pun kenikmatan akhirat. Kenikmatan dunia yang kita tumpuk sepanjang hayat, tidak akan mampu membeli kenikmatan akhirat yang hakiki. Memang tidak bisa di pungkiri bahwa Nam et ipsa Scientia Potesta Est’ atau Knowledge is Power , demikian Francis Beacon telah mengungkapkannya. Namun kita harus menyeimbangkan iptek dengan imtak agar kehidupan kita seimbang, sukses di dunia dan di akhirat kelak

BELALANG MENCOBA MENGHENTIKAN KERETA

TAN BI DANG CHE


Kisah ini terjadi pada periode Musim Gugur dan Semi (770-476 SM). Suatu ketika seorang pelajar yang sangat terkenal bernama Yan He mengunjungi negara Wei. Ia diterima dengan hangat oleh salah satu pejabat tinggi negara tersebut. Pejabat itu memintanya untuk mendidik anaknya Kuai Kui yang terkenal sebagai pemuda berandalan. Tabiat pemuda itu sangat buruk, ia tidak segan-segan membunuh orang.

Yan He menceritakan perihal tawaran tersebut pada temannya yang bernama Qu dan ingin mendengar pendapatnya itu. Qu tidak langsung menanggapi. Ia justru menceritakan sebuah kisah, “Suatu hari ketika saya sedang melewati jalan raya, tiba-tiba muncul seekor belalang yang berdiri di tengah jalan. Ia mencoba menghentikan kereta saya. Namun apa yang terjadi?? Dalam sekejap tubuhnya terlindas roda kereta. Tidak mungkinlah seekor belalang menghentikan kereta yang sedang berjalan.” Sejenak kemudian Qu menambahkan, “ dalam pandangan saya, Anda seperti belalang itu, yang terlampau tinggi menilai kemampuan diri, bahkan berani mendidik anak pejabat yang terkenal kebrutalannya. Saya khawatir, sebelum anda sempat mendidiknya, nyawa Anda sudah melayang terlebih dahulu.

Mendengar kata-kata Qu, Yan He sadar akan kesalahannya. Akhirnya, ia menolak tawaran itu dan mempersingkat kunjungannya ke negara Wei.

Beberapa tahun kemudian, Yan He mendengar kabar bahwa anak pejabat tinggi itu di bunuh orang karena terlalu banyak melakukan kejahatan

*********

Jangan terlalu tinggi menilai kemampuan Anda, terutama dalam mengerjakan sesuatu yang beresiko tinggi, sebab jika gagal akan sangat fatal akibatnya…